PB|PURBALINGGA – Miyarso (63) warga Dusun Bandingan Rt. 18 Rw. 06 Desa/Kecamatan Karangjambu, sangat mengepresiasi dengan adanya pembangunan yang dilakukan TNI melalui TMMD Reguler ke-101 Kodim 0702 Purbalingga di desanya. Sudah 15 tahun kebelakang, Miyarso menjaga dan menjadi kuncen situs tersebut. Di situs ini terdapat makam keramat atau makam leluhur desa Karangjambu “Makam Syekh Jambu Karang” sebagai ulama penyebar agama islam di Kabupaten Purbalingga, yang meninggal dan dimakamkan di Desa bandingan atau situs ini.

Selain makam Syekh Jambu Karang, juga ada mitos tentang larangan membunuh atau menangkap kalong (kelelawar raksasa) yang dipercayai warga adalah jelmaan arwah para leluhur, sehingga jika kalong tersebut ditangkap atau dibunuh akan menjadikan malapetaka bagi pelakunya, seperti dipercaya akan sakit menahun dan susah disembuhkan.

Di Situs bandingan juga terdapat peninggalan Megalitik berupa Menhir yang begitu kompleks terdiri dari 3 teras, yang berfungsi sebagai penanda makam leluhur/nisan atau juga tanda kehormatan bagi orang yang telah berjasa. Meski secara umum seluruh peninggalan Megalitik di Situs Bandingan ini dipengaruhi unsur kebudayaan hindu maupun budha, namun warga sekitar lebih mempercayai jika nenek moyang yang dimakamkan di situs ini merupakan tokoh penyebar agama Islam dengan tokoh utamanya Syekh Jambu Karang. Menhir di Desa Karangjambu terlihat kompleks, terdiri dari tiga bagian teras berundak yang teras dipercaya memiliki tingkat kesakralan yang berbeda,semakin keatas semakin dianggap suci.Di beberapa situs lain, menhir digunakan sebagai media perhitungan musim.

Lebih lanjut Miyarso menjelaskan tentang akses menuju makam yang juga dapat melalui Desa Panusupan Kecamatan Rembang, bahwa kawasan makam itu terletak sekitar 20 kilometer arah utara kota Purbalingga. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan mikro bus jurusan Bobotsari-Rembang (arah monumen Jenderal Sudirman). Sesampai di desa Rajawana, perjalanan dilanjutkandengan mobil pick up/bak terbuka jurusan Rajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. Dari desa Panusupan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer memerlukan waktu 1 sampai 2 jam dari desa tersebut. jalannya sedikit agak menguras tenaga untuk dilalui sebab mencapai kemiringan 70% sampai 80% dan berada pada titik koordinat 7°15’2″S dan 109°29’26″E. Jalan setapak yang dilapis semen selebar satu meter membelah desa itu mengantar kita mencapai gerbang makam. Kemudian kita diajak menelusuri jalan selebar satumeter yang kondisinya naik turun di lembah perbukitanhijau pada belahan timur kaki gunung Slamet.

Di sini, setiap pengunjung dikenai biaya restribusi sebesar 3000 rupiah saja sebagai perawatan makam dan mengisi buku tamu.

“Umumnya, peziarah datang pada malam Minggu Pon dan Rabu Pon, namun yang paling ramai ketika pergantian tahun Isalam atau Suro. Banyak anak muda menghabiskan malam panjang disini sambil menyelami wisata spiritual, meraih berkah-berkah di dalamnya” lanjut Miyarso.

Semoga juga dengan pembangunan akses yang sedang dikerjakan TNI melalui TMMD Reguler 101 Kodim 0702 Purbalingga, akses desa menjadi lebih baik, banyak investor mulai melirik dan masuk untuk memperkanalkan Situs Bandingan, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan warga setempat dengan banyaknya wisatawan yang datang.

“Saya bersama Pak Babinsa Suratman dan KKN UNSOED, memohon kekuatan, keselamatan dan keberkahan dari Alloh lewat perantaraan para Waliulloh ini, agar pembangunan di Karangjambu lancar dan tidak ada halangan suatu apapun. Semoga juga dengan banyak TNI yang sedang membangun desa, akan lebih mempublikasikan situs ini sebagai obyek bahwa penyebar agama islam di tanah jawa ada di desa kami. Sekali lagi terimakasih kepada TNI dan Bapak Bupati karena memperhatikan kami” pungkasnya.(Pendim 0702|red)

Bagikan
Informasi  Mobil Baru Indonesia Dealer Mobil Baru Indonesia