oleh

PAWAI OGOH – OGOH SEMARAKKAN MALAM PUNCAK SEBELUM HARI RAYA NYEPI TAHUN 2017 DI BALI

PB|Denpasar – Pergantian tahun di Bali yang dikenal dengan Nyepi, menurut kalender Hindu jatuh pada Anggara Paing Sungsang Penanggal 1 Sasih Kedasa Saka 1939 atau tanggal 28 Maret 2017. Brata penyepian dilaksanakan dari jam 06.00 pagi sampai jam 06.00 esok harinya. Seperti di ketahui perayaan Hari Raya ini dirayakan dengan sepi, tidak ada euforia ataupun hingar bingar seperti perayaan-perayaan pada umumnya, sehingga saat ini perayaan ini dinamakan Nyepi, nah disinilah keunikannya, disaat seperti ini umat Hindu disarankan untuk melaksanakan tapa, berata, yoda dan semadi dan yang paling penting pada perayaan ini wajib melakukan Berata atau sering disebut dengan Catur Berata Penyepian. Pada saat suasana sepi (sipeng) inilah manusia hendaknya melakukan instropeksi diri mengenai pelaksanaan Trikarya Parisudha diantaranya perbuatan, perkataan dan pikiran yang mungkin salah dan memperbaikinya di masa kedepan.

Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar dalam memperingati pergantian tahun di Bali yang dikenal dengan Hari Raya Nyepi, yang jatuh pada hari Selasa 28 Maret 2017 warga  Hindu Lanal Denpasar melaksanakan ritual/acara persembahyangan  sebelum Brata penyepian dimulai, yaitu dengan melaksanakan ritual Melasti/Makiyis, upacara yang dilaksanakan 2 atau 3 hari sebelum hari Raya Nyepi, dilanjutkan dengan upacara Tawur Agung Kesanga dan Pengrupukan pada saat malam sebelum hari raya Nyepi. Dan selanjutnya Brata Penyepian, setelah itu rangkaian terakhir perayaan Ngembak Geni.

Pada malam pengerupukan hari Senin (27/03) warga Hindu Denpasar Selatan melaksanakan tradisi pawai ogoh-ogoh yang di arak di sekitar banjar yang ada di daerah Denpasar Selatan. Setelah Ogoh-ogoh diarak dilaksanakan lomba yang tempatnya di Jalan Raya Sesetan di depan Pangkalan TNI AL Denpasar. Tidak kurang dari 7000 ogoh – ogoh diseluruh Bali dilombakan, dan di wilayah Denpasar Selatan sendiri sekitar 40 peserta pawai Ogoh-ogoh menyemarakkan perlombaan tersebut. Dengan diiringi dengan gamelan khas Bali para peserta memperagakan Ogoh-ogoh yang dibawa dari banjar masing-masing. Menurut Lurah Sesetan yang juga sebagai Ketua Panitia Lomba pelaksanaan pawai Ogoh-ogoh ini guna menyemarakkan malam pengerupukan atau malam puncak sebelum hari Raya Nyepi, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Dari Warga Lanal Denpasar sendiri mengeluarkan 2 ogoh-ogoh untuk diperlombakan yang dibawa dan diarak oleh putra-putri dari asrama TNI AL Denpasar baik yang beragam Hindu maupun Muslim ikut berbaur menyemarakkan pawai ogoh-ogoh tersebut, demikianlah perpaduan yang sangat kental dan penuh persaudaraan dalam melaksakan toleransi beragama yang ada di Lanal Denpasar. Dalam perlombaan tersebut ogoh-ogoh dari Lanal Denpasar mendapatkan Juara Harapan I dari 40 peserta yg mengikuti lomba di wilayah Denpasar Selatan.

Adapun larangan-larangan harus dilakukan saat catur Berata Penyepian dalam Agama Hindu adalah Amati Karya yang artinya tanpa kegiatan, Amati Gni tanpa menyalakan api termasuk lampu, Amati Lelungaan tidak keluar rumah dan amati lelanguan tanpa hiburan. Perayaan nyepi ini mengandung arti dan nilai yang mendasar tentang hakekat kehidupan sebagai hamba Tuhan. Rangkaian perayaan Nyepi adalah, upacara Melasti/ mekiyis dilakukan 2 atau 3 hari sebelum Nyepi, Ngerupuk/Mebuu-buu dirangkai dengan pawai ogoh-ogoh dilakukan sehari sebelum Nyepi, dan Ngembak Geni sehari setelah Nyepi. (Pen Lanal Denpasar|red)

Baca Juga